Padat




Empat petak sawah kecil. Padi berdaun ranum seperti rumput liar untuk makanan ternak. Sisi kanan jalan, warga setempat memancing ikan ditepi danau. Mereka dapat ikan mas, mujair, lele dan gabus. Ikan itu segera dibawah kepasar terdekat untuk di jual.
Ini mirip sebuah lukisan desa, tapi ini sebenarnya bukan desa. Akan tetapi adalah kabar tepian kota Makassar. Orang lazim menyebut daerah ini perumnas Antang.
Sisi lain, keletihan aspal selama 24 jam sangat jelas terungkap disana, tubuh hitam tengkurap kian sekarat. Ditambah hujan deras akhir-akhir ini juga membuat jalanan makin becek. Kendaraan roda dua saya terasa melenggak-lenggok bak perahu disungai beriak. Berkelit, sulit menghindarpun susah. Lubang-lubang pada jalan itu tergenang air. Yang tak terbiasa melewatinya harus memicingkan mata, guna mencermati mana lubang yang dalam dan mana lubang dangkal. Jika salah tebak, akhirnya kendaraan terantuk lagi.
Tiba-tiba sebuah mobil angkut umum menyalib depan mata yang kurang waspada. Pemandangan ini realistis, biasalah, sopir angkot sedang menyasar calon penumpang yang melambaikan tangan dipinggir jalan. Ia butuh penumpang, artinya sama butuh duit buat makan hari ini.
Budaya antri tak penting untuk dibicarakan saat itu. Mau menyadarkan siapa, nyatanya memang begitu, masing-masing penyetir harus ciptakan jurus agar beradaftasi jalan rusak, minimal meloloskan diri dari suasana “sesak-sesakan”. Jika penduduk padat, logikanya alat transportasi juga pasti tambah banyak, kenyataan “dempet-dempetan” pun tak terelakkan adanya. Jangan mengeluh ! Tak ada yang salah dengan masyarakat yang berkembang.
Cuma entah, sarana umum seperti jalanan itu milik siapa?
Pengalaman ketaknyamanan ini biasa-biasa saja. Tak ada yang mau mengeluh ataupun protes. Ataukah mungkin pikiran kita sama, intinya bagaimana bisa meloloskan diri dari jerat-jerat kepadatan. Saya sebagai penulispun hanya sekedar buat cerita kembang-kembang masalah, karena kebetulan melewati jalur Antang karena hari itu saya kerumah teman.

Subhan Makkuaseng

Makassar, 26 Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s