Kisah Cangkir Perjuangan Mimit


Rabu, 16 Maret 2011

SERI JENDELA UKM SENI (05); “kisah cangkir perjuangan”

(Mimit Pakasi)

sbelomnya saya ceritakan kisahnya, baiknya saya sebutkan dulu ciri2 si cangkir ini, warnanya seperti warna baju tentara “loreng” (hijau dan putih), ukurannya jumbo, ada beberapa bagian yg agak karatan..(menurut kabarnya cangkir ini sudah tidak di produksi lagi karena pabrik yg membuatnya sudah tutup)…
awalnya cangkir ini di temukan di WC sastra, di gunakan sebagai gayung/timba untuk menggambil air di dalam bak (pokoknya di gunakan dalam beraktivitas di kamar mandi…termasuk juga di gunakan untuk “itu”) kemudian teman2 mengambilnya untuk di gunakan sebagai wadah teh cinta setiap kami ingin minum teh.
entah kenapa, si cangkir ini sering kembali ke tempatnya, yaitu WC sastra…tapi tak lama kemudia dia balik lagi (hehehe..kayaknya cangkir ini berelemen air sebab suka daerah2 yang basah)
lanjut lagi…cangkir ini tlah slalu setia menemani kami setiap kami ingin meminum teh cinta, si cangkir ini tlah melanglang buana, krn setiap ada kegiatan di luar makassar dia slalu ikut menemani kami…
makanya cangkir ini di beri label” cangkir perjuangan”

kisah muntah kuning
ini istilah yg sangat familiar dulunya (tdk tau skrg)…ini cerita yg bram buat buat alias dogeng buat saya dan moch…(ini hanya dongeng namun di latar belakangi kisah nyata…kisah nyatanya adalah bahwa kami memang slalu lapar dulunya)
begini ceritanya (hahahah) …kami dulu slalu kelaparan, suatu hari yg panas (otomatis siang kan, bukan malam) yang ada di sekret itu cuman kami berdua (mimit dan moch) kebetulan ruang sekret itu memiliki dua bilik dan dua pintu…saya tidur siang di sebelah kanan dan moch di ruang sebelah kiri (kami tidur bukan krn ngantuk tapi krn kami lapar), suasana pada saat itu sepi, harta benda yg paling berharga pada saat itu yang bisa mengisi kekosongan perut kami adalah ‘AIR GALON”…
lanjut lagi cerita bram…katanya kami slalu berganti-gantian minum air, tapi tidak pernah berpapasan saat minum air galon untuk mengisi kekosongan perut kami…
akhirnya air galon habis dan tidur sebagai salah satu senjata untuk menahan nyeri pada lambung (bukan krn maag tapi krn kami lapar) pun sudah tidak bisa di andalkan…
masih menurut cerita bram…saya pun ke luar ke pintu untuk muntah…eh, saya menoleh ke sebelah kiri..di pintu sebelah kiri moch juga lagi muntah…akhirnya kami berpapasan juga pada saat muntah…

tragedi pencurian listrik
waktu itu di kampus 1 universitas muslim indonesia kalo malam akan ada pemadaman listrik, otomatis kami yang bersekret di kampus umi 1 akan bergelap2 ria…

di kampus 1 umi itu kalo terjadi pemadaman bergilir ada 2 bangunan yang tidak padam yaitu pos satpam dan mesjid, mesjid di kampus 1 umi itu terletak di lantai 2 persis di atas ruangan Rektor dan PR 1, PR 2 dan PR 4..

akhirnya teman2 mengadakan “rapat” untuk mengadakan pencurian listrik, dan lokasi yg paling strategis untuk mencantol kabel yaitu mesjid…setelah segala persiapan dilakukan yaitu memanfaatkan alat2 di sekret akhirnya smua siap, cuman masih ada satu kendala yaitu siapa yang akan melakukannya….sebab untuk mencapai tempat mencantol listrik itu kami harus memanjat dinding menggunakan tangga untuk sampai ke lantai 2 itu pun lewat jendela mesjid yg kebetulan kaca2nya sdh pada hilang (tapi bukan saya yg melakukan, saya tdk tau kalo moch krn stiap terjadi pencurian listrik kami berdualah yg slalu di pilih untuk melakukannya) krn setiap malam pintu mesjid pasti di kunci….

singkat cerita, kami selalu berhasil sampai di atas (kami memang tlah melakukannya berkali2) setelah pemasangan berhasil, kami pun hendak turun…ternyata eh, ternyata satpam sdh ada menunggu di bawah, dan lebih lucunya smua teman2 di sekret pada ketawa smua melihat tingkah kami yg kedapatan oleh satpam..

tapi ada juga kejadian lucu yg terjadi di atas, dimana kami menjadi panik,…
saya pun bertugas menjaga jgn sampai satpam tersebut naik ke atas ato mengambil tangga tersebut (kan bisa2 kami tdk turun) sambil mengawasi satpam yg masih terus mengawasi kami, saya menoleh mencari sosok seorang moch, dia ternyata menghilang…

saya pun mencarinya..eh ternyata dia ada di kamar mandi mesjid….
saya pun menegurnya
mimit : “kenapako moch, ambil apako disini?”
moch : ” anu..saya lagi cari jalan turun”
mimit : ” turun lewat mana?”
moch : ” lewat sini (sambil menunjuk pipa pembuangan air)
mimit : “sambala, mauko bunuh diri ”
moch : “tdkjie…amanjie turun lewat sini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s