Angin’ dan Jeneponto


Uhhh, tiba-tiba saja listrik padam, seketika saja semua menjadi gelap karenanya. Berapa tahun belakangan ini, memang sedang giat-giatnya terjadi pemadaman mendadak oleh Prusahaan Listrik Negara. Apologinya sangat beragam mulai dari musim yang kemarau, yang menandakan air di hulu sungai sedang berkurang volumenya, hingga tak cukup jua untuk menghasilkan tenaga listrik yang kontinu untuk masyarakat. Sampai ke masalahn rusaknya perangkat keras dari Perusahaan Listrik Negara. Tentu sebagai warga, secara pribadi, saya tak bisa menerimanya secara lapang walau akhirnya pasrah dengan keadaan dan ketergantungan ini.
Di Indonesia tak seperti di negara-negara maju lainnya. Negara-negara maju meski sangat kapital, tetap memberdayakan masyarakat dengan bekal pikiran yang kreatif dan tidak serta merta menciptakan suasana ketergantungan seperti yang saya alami di negara saya.
Bayangkan saja, hampir tak ada alternatif untuk masyarakat memberdayakan diri, meski hanya untuk memperoleh energi listrik secukupnya dan nyaman. Pemusatan atau sentralisasi sayaenergi kepada PLN sangat berpengaruh kepada bidang ekonomi rakyat.
Sementara itu masyarakat belum dibekali pengetahuan cukup tentang bagaimana menghasilkan energi alternatif sebagai antisipasi jika PLN lagi mandek. Sumber daya alam di tempat saya, lebih dari cukup untuk menghasilkan dan memandirikan masyarakat untuk menghasilkan energi listrik.
Jika kita ingin mengelompokannya, sumber daya itu seperti:
1.Tenaga Air
Contoh: Air terjun padaaliran sungai
2. Tenaga Uap
Contoh: Pembakarannya diperoleh dari bahan tambang (Batubara)
3. Tenaga Angin
Contoh: Angin pantai, gunung dan lembah yang mumpuni untuk mengerakkan baling-baling.
Point 1 dan 2 telah dikembangkan oleh pemerintah bahkan sampai ketenaga kimia seperti gas dan nuklir. Tenaga Angin tak begitu menjadi bahan fokus untuk pengembangan.
Tenaga Angin bisa dipandang dari segi efisiensi dan dapat menjangkaau masyarakat secara ekonomi dan kapasitas pikiran mereka. Tak perlu kita menggali dan menghabiskan isi tanah warisan nenek untuk menghasilkannnya, cukup dengan pengetahuan teknik tenaga listrik yang bisa dipelajari dengan pelan.
Disini,saya ingin bercerita tentang suatu daerah yang kurang mendapat perhatian dari segi potensina. Daerah itu bernama Kabupaten Jeeponto.
Kabupaten ini terdapat di Sulawesi Selatan, dikenal sebagai penghasil garam. Wilayahnya meliputi garisan pantai sepanjang jalan poros menuju Bulukumba. Jika kita berkendaraan melewati empang dan pantai, maka kita akan mendapati angin yang teramat kencang, hingga hampir saja keseimbangan kendaraan motor kita akan hilang. Penduduk disana memanfaatkannya untuk memutar baling-baling pada empang ikan mereka,

Baling-Baling itu berputar kencang sepanjang hari. Saya kemudian membayangkan bagaimana jika Baling-Baling itu dibuat banyak dan paralel dengan beberapa generator listrik. Kan bisa hemat…hmmm

Dalam hal ini harus ada riset tentang kekuatan angin sehingga kita dapat membuat semcam tempat menampung angin. Sekian (Suhud Madjid)